29 Nov 2025, 19:45
Observatorium Bosscha pada hari Sabtu, 22 November 2025, mengundang kalangan pejabat daerah dan juga masyarakat sekitar observatorium untuk mengikuti kegiatan Open House Observatorium Bosscha 2025. Setelah diadakannya kegiatan edukasi Astronomi kepada anak-anak pada tanggal 26 September 2025 lalu (lihat: Dari Bintang ke Bumi: Pengenalan Astronomi dari Observatorium Bosscha kepada Anak-anak SOS Kinderdorf dan RW 10 Kampung Bosscha - https://as.itb.ac.id/news_detail.php?id=45) serta partisipasi dalam pameran sains Astara Ganesha, Open House ini merupakan kegiatan lanjutan dan acara puncak dari program diseminasi sains Observatorium Bosscha yang mendapat dukungan dari In-Saintek oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi.
Bertemakan “Menata Cahaya Menjaga Bumi”, melalui open house ini, Observatorium Bosscha ingin mengajak masyarakat, sekolah, dan penentu kebijakan untuk sadar akan adanya polusi cahaya yang dapat berdampak buruk pada Bumi kita. Isu polusi cahaya ini disampaikan langsung oleh Observatorium Bosscha kepada para pejabat daerah setempat seperti Bupati Kabupaten Bandung Barat, Bapak Jeje Ritchie Ismail, melalui serangkaian diskusi yang memaparkan rekomendasi pengurangan polusi cahaya di kawasan sekitar Observatorium Bosscha. Sedangkan untuk kalangan masyarakat, Observatorium Bosscha membagikan tudung lampu kepada masyarakat desa di sekitar observatorium sebagai upaya mengurangi polusi cahaya.
Kepala Observatorium Bosscha, Dr. Hesti Retno Tri Wulandari, menuturkan bahwa kegiatan ini sejatinya untuk mengenalkan kepada masyarakat luas bahwa sains itu untuk semua dan astronomi dapat menjadi gerbang depan dalam literasi sains.
“Tujuan dari acara ini untuk mengundang elemen masyarakat yang bukan target utama dari diseminasi sains Observatorium Bosscha, seperti pedagang, petani, peternak, karang taruna, dan keluarga. Kita mau menunjukkan bahwa sains bisa diperkenalkan dengan cara yang menyenangkan, seperti astronomi yang ada gambar bagus-bagus yang membuat orang tertarik untuk belajar sains,” tutur Bu Hesti dalam wawancara di sela-sela kegiatan.
Selain edukasi terhadap polusi cahaya, di dalam Open House ini juga ditampilkan berbagai profesi dalam booth Pojok Karir STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) untuk memperkenalkan karir pada bidang STEAM. Pengenalan karir ini dilakukan karena terdapat keprihatinan akan menurunnya minat terhadap karir pada bidang STEAM di banyak negara, seperti yang dikatakan oleh Dr. Hesti, “Pekerjaan pada bidang sains dan engineering dianggap susah sehingga tidak hanya di Indonesia tetapi di banyak negara minat terhadap profesi STEAM menurun. Padahal jika mau negara semakin maju, kedepannya kita perlu banyak profesi ahli pada bidang STEAM. Kita mau membuat sains terasa dekat dengan masyarakat.”
Untuk pengenalan karir pada bidang STEAM, tidak hanya astronom dari Program Studi Astronomi ITB yang diundang melainkan terdapat profesi lainnya, seperti ahli geologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pemadam kebakaran dari Institut Teknologi Bandung (ITB), ahli gizi dari Rumah Sakit Santo Borromeus, dokter hewan dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) di Lembang, ahli pengolahan susu dari Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), serta seniman dari Kelas Ilustrasi Buku Anak (KIBA) ITB. Para narasumber juga diberi kesempatan untuk memperkenalkan karir mereka pada sesi pemaparan dan tanya jawab kepada masyarakat. Adanya pengenalan karir STEAM melalui bentuk festival ini, Observatorium Bosscha mengharapkan dapat menumbuhkan kolaborasi antar bidang dan juga berbagai pihak dalam diseminasi saintek.
“Dari program diseminasi sains ini, Observatorium Bosscha belajar banyak hal dalam hal kolaborasi dengan banyak pihak dan kalangan masyarakat sekitar supaya mereka juga merasa memiliki Observatorium Bosscha,” tambah Dr. Hesti sebagai penutup dalam sesi wawancara. [FA]