10 Jul 2026, 19:09
Perjalanan Dr. Hakim Luthfi Malasan, atau yang akrab disapa Pak Hakim, di bidang astronomi berawal dari ketertarikannya pada alam semesta sejak usia dini. Minat tersebut mulai tumbuh ketika beliau berusia sekitar lima hingga tujuh tahun, saat ayahnya mengajaknya mengunjungi sebuah planetarium di Ottawa, Kanada. Pengalaman itu kembali menguat ketika beliau mengunjungi Planetarium Jakarta pada era 1970-an. Suasana ruang pertunjukan dan materi yang disajikan tentang langit dan benda-benda langit semakin mendorong rasa ingin tahunya terhadap astronomi. Ketertarikan tersebut kemudian menjadi pilihannya untuk menempuh pendidikan di bidang astronomi. Saat mengikuti seleksi masuk Institut Teknologi Bandung, beliau menempatkan Program Studi Astronomi sebagai pilihan pertamanya, di tengah tren mahasiswa lain yang memburu jurusan-jurusan favorit. Keputusan berani ini sempat memancing pertanyaan bernada sangsi dari pihak pewawancara kampus yang menanyakan, "Kamu satu-satunya mahasiswa yang milih astronomi pilihan satu... Nggak nyesel?", sebuah keraguan yang dijawabnya dengan kepastian.
Memasuki tahun kedua perkuliahan, Pak Hakim mengambil keputusan yang berpengaruh besar terhadap perkembangan dirinya sebagai calon peneliti. Setelah berkunjung ke Observatorium Bosscha dan berinteraksi dengan Prof. Dr. Bambang Hidayat, Kepala Observatorium Bosscha pada saat itu. Dari sana beliau mulai memahami pentingnya kedisiplinan dan tata kerja dalam kegiatan ilmiah. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk pindah dari tempat kos yang diurus oleh keluarganya di Jalan Dago Barat dan menetap di kompleks Observatorium Bosscha. Keputusan ini membuatnya harus menjalani kehidupan yang lebih mandiri, termasuk mengurus kebutuhan sehari-hari sendiri. Meski pilihan tersebut dianggap tidak menguntungkan oleh sebagian orang di sekitarnya, beliau melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar hidup mandiri dan lebih dekat dengan lingkungan penelitian.
Kehidupan di Bosscha berlangsung dalam suasana yang relatif tenang dan jauh dari keramaian Kota Bandung. Namun, lingkungan tersebut justru memberinya kesempatan untuk berinteraksi dengan banyak astronom dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Cekoslowakia. Para ilmuwan ini datang untuk melakukan pengamatan dan penelitian di Observatorium Bosscha. Melalui interaksi tersebut, beliau memperoleh pengalaman langsung mengenai cara kerja para peneliti di lapangan. Beliau mengamati bagaimana para astronom terlibat langsung dalam pemasangan instrumen, pengumpulan data, dan penyelesaian berbagai persoalan teknis. Pengalaman ini memperkuat pemahamannya mengenai pentingnya pendekatan learning by doing dalam penelitian dan semakin mengarahkan minatnya pada astronomi observasional.
Pilihan untuk menekuni astronomi mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Ayahnya merupakan seorang dokter. Dalam lingkungan keluarganya, beliau memiliki kebebasan untuk menentukan jalur pendidikan dan karir yang ingin ditempuh. Salah satu pesan sang ayah yang paling diingatnya adalah keharusan untuk menekuni pilihan tersebut: "Kalau mau belajar astronomi dari awal, jangan tanggung-tanggung... belajar sampai tingkat pendidikan yang paling tinggi" . Berpegang pada prinsip tersebut, beliau memutuskan untuk melanjutkan studi magister dan doktoral di University of Tokyo, Jepang. Pilihan tersebut juga dipengaruhi oleh pengamatannya terhadap para astronom Jepang yang pernah bekerja di Bosscha. Beliau melihat etos kerja mereka yang menekankan ketelitian, kemandirian, dan keterlibatan langsung dalam pengembangan instrumen maupun perangkat lunak penelitian.
Masa studi di Jepang menjadi periode yang menantang sekaligus membentuk kapasitas akademiknya. Untuk masuk, beliau harus melalui proses seleksi yang sangat sangat ketat, mengerjakan ujian selama tiga jam penuh yang dilanjutkan dengan sesi wawancara teknis di hadapan lima profesor berbeda. Akhirnya beliau dinyatakan lulu dengan skema beasiswa dari perusahaan Jepang Hitachi. Selama menempuh pendidikan di sana, beliau harus beradaptasi dengan budaya akademik yang menuntut komitmen tak kenal waktu, termasuk menaati konsensus tak tertulis antar-mahasiswa untuk tidak pulang sebelum sensei (profesor) meninggalkan ruang kerjanya. Selain beraktivitas di kampus utama di Tokyo, juga menghabiskan waktunya berjibaku di observatorium seperti Okayama. Keputusan untuk langsung melebur (mingle) di lapangan pengamatan ini membantunya membangun jejaring pertemanan yang luas dengan hampir seluruh komunitas astronom observasional Jepang. Pengalaman tersebut membantunya membangun jejaring profesional yang lebih luas di kemudian hari dan masih terjalin hingga saat ini. [VS]