ITB FMIPA Bosscha Observatory Indonesian Flag

Belajar dengan Mengerjakan: Filosofi Dr. Hakim L. Malasan (Tulisan Bagian 2 dari 4)

11 Jul 2026, 19:01

Dalam dunia penelitian astronomi, secara garis besar terdapat dua pendekatan riset yaitu mereka yang berlomba menemukan objek terjauh di alam semesta menggunakan teknologi canggih, dan mereka yang memilih untuk membedah satu objek angkasa secara mendalam. Bagi Dr. Hakim L. Malasan, kepuasan intelektualnya berlabuh pada pilihan kedua. Beliau menemukan panggilannya di bidang fisika bintang. "Saya bukan orang yang suka mencari objek, tapi mencoba mendalami, membedah secara mendalam satu objek, dan di fisika bintang saya menemukan itu," ungkapnya. Menurut beliau, meski bintang tidak sedekat tata surya tempat kita bernaung, objek ini merupakan building block atau fondasi utama dari pembentukan alam semesta. Jumlah bintang jauh melampaui populasi astronom itu sendiri, dan masih banyak sistem bintang yang menyimpan sifat enigmatik serta ekstrem. Sedikit membahas teknis, beliau cukup terpesona oleh dinamika bintang ganda dekat yang saling berinteraksi, yang menyimpan fenomena radikal mulai dari gaya pasang surut pemecah bintang hingga proses meleburnya materi antar-bintang.

Ketertarikan yang mendalam ini membawanya meneliti lebih jauh sistem close binary (bintang ganda dekat) di pusat planetary nebula (nebula planeter). Selama menyelesaikan studi doktoralnya pada awal 1990-an, beliau leluasa menggunakan teleskop berukuran besar di Hawaii dan Okayama, Jepang, untuk melakukan pengamatan pada objek-objek angkasa yang amat redup. Namun, ketika kembali ke Indonesia pada tahun 1993, beliau harus berhadapan dengan kenyataan, teknologi observatorium di tanah air kala itu masih mengandalkan pelat fotografi konvensional. Menyadari keterbatasan tersebut, alih-alih menyerah atau memaksakan riset yang sulit dilakukan tanpa teleskop raksasa, beliau memilih jalur yang lebih realistis dengan mulai berfokus pada pengembangan instrumentasi. Beliau juga meyakini bahwa kemajuan sains di sebuah negara tidak semata-mata terletak pada alatnya, melainkan pada keberadaan critical mass, yakni sekelompok peneliti yang tangguh, aktif, dan mau bekerja keras.

Dalam merintis upaya pembuatan instrumen, pemikiran Dr. Hakim sangat dipengaruhi oleh kultur astronomi di Jepang. Di Jepang, terdapat sebuah filosofi bahwa "no new instrument, no new science". Artinya, setiap ilmuwan didorong untuk mampu merakit peralatannya sendiri guna menemukan jawaban atas risetnya. Beliau juga selalu berpegang pada prinsip: "I listen, I forget. I see, I believe. But if I do, I understand". Baginya, pemahaman sejati lahir ketika seseorang berani turun tangan langsung memproses sesuatu. "Jangan mengaku orang instrumen kalau nggak pernah kesetrum sama kesolder," tegas beliau seraya mengingatkan bahwa seorang saintis harus siap dengan kegagalan dalam bereksperimen.

Lebih jauh, beliau melontarkan kritik terhadap budaya pengelolaan laboratorium yang kerap keliru. Menurut pandangannya, instrumen laboratorium yang diperuntukkan bagi eksplorasi ilmu pengetahuan tidak boleh diperlakukan terlalu suci atau "dimuliakan". Alat-alat eksperimen harus dikelola dengan kesadaran penuh bahwa mereka siap untuk dibongkar, dimodifikasi, dan bahkan dirusak oleh mahasiswa dalam proses belajar. Jika rusak, maka solusinya adalah mencari dan membangunnya kembali, bukan menyimpannya rapat-rapat di dalam lemari.

Semangat pantang menyerah ini tercermin dalam cara beliau mempertahankan denyut nadi Observatorium Bosscha. Di tengah pesimisme banyak pihak yang menganggap Bosscha semakin terancam terutama dalam aspek pengamatan visual akibat polusi cahaya di kawasan Lembang, beliau berpegang pada keyakinannya. Beliau menegaskan bahwa ancaman polusi cahaya tidak boleh dijadikan dalih untuk berhenti melahirkan karya ilmiah. "Jadi, jangan karena kita punya premis polusi cahaya, terus nggak ngapa-ngapain. Itu yang salah. We have to struggle," serunya. Alih-alih menghentikan aktivitas, beliau menggerakkan mahasiswanya untuk merawat dan mengoperasikan kembali spektrograf di Observatorium Bosscha. Hingga saat ini, kegiatan observasi spektroskopi di Bosscha masih terus menyumbangkan data pengamatan dan publikasi ilmiah di jurnal internasional.

Visi jangka panjang untuk menyemai kultur pembuatan instrumen mandiri ini bersambut ketika beliau turut membangun Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL). Melalui perpaduan lintas disiplin antara sains atmosfer, meteorologi, dan astronomi, mahasiswa ITERA diberi kebebasan untuk berinovasi merakit instrumen mereka sendiri. Dari sana, lahir berbagai purwarupa, mulai dari peralatan cuaca hingga mounting teleskop robotik. Melalui ITERA, mimpi panjang Dr. Hakim tentang sebuah laboratorium yang menjadi arena bermain dan bengkel inovasi bagi generasi muda Indonesia perlahan mewujud menjadi kenyataan. [VS]

© 2026 ITB Astronomy Study Program