12 Jul 2026, 18:42
Bagi para mahasiswa Astronomi ITB, nama Dr. Hakim L. Malasan sering kali hadir bersama sebuah reputasi yang sudah melekat yakni dosen yang galak. Namun, di balik ketegasannya di ruang kelas maupun di ruang bimbingan, terdapat sisi humanis yang jarang tersorot namun sangat membekas bagi mereka yang benar-benar mengenalnya.
Beliau sendiri menyadari betul reputasi tersebut dan menanggapinya dengan santai. "Reputasi saya jelek, sering dibilang galak. Sebenarnya bukan galak. Cuma saya tuh apa adanya," ungkap beliau. Menurutnya, ketika ada hal yang salah, beliau akan langsung menyampaikannya secara jujur dan lugas. Meski cara penyampaiannya terkesan seperti orang marah, emosi itu hanya sebatas untuk meluruskan kesalahan. "Saya marah tapi habis itu hilang... Nggak pernah ada rasa benci," jelasnya.
Justru, karena karakternya yang menuntut kedisiplinan inilah, mahasiswa yang paling membekas di ingatan beliau adalah mereka yang punya mental baja. Beliau sangat menghargai mahasiswa yang ulet dan tahan banting, yang meski sering ditegur atau dikritik keras saat bimbingan, tetap kembali melangkah maju memperbaiki risetnya. Di dalam kelas pun, beliau selalu menuntut mahasiswanya untuk menciptakan ruang dialog, bukan sekadar datang untuk mendengarkan. "Tuntutan saya ketika datang ke kuliah, jangan seperti kertas putih yang siap ditulisin sama dosen," tegasnya, menekankan pentingnya mahasiswa untuk menyiapkan diri sebelum perkuliahan dimulai.
Di balik ketegasan tersebut, beliau memegang prinsip bahwa tidak boleh ada batasan atau gap status antara dosen dan mahasiswa saat belajar. Beliau memposisikan dirinya sebagai teman diskusi yang kebetulan lahir lebih dulu dan memiliki lebih banyak waktu untuk belajar. Karena kedekatan ini, sering tercipta momen-momen santai, juga tak terlupakan. Beliau tak canggung untuk sekadar makan di warteg bersama mahasiswanya, motoran, hingga berbincang santai sambil merokok bersama. Kedekatan ini mematahkan kesan kaku, membuat mahasiswa pada akhirnya menyadari bahwa sosok yang mereka anggap galak itu sebenarnya sangat terbuka.
Sisi humanis Dr. Hakim juga tercermin kuat saat beliau bercerita tentang keluarganya. Meski hidup sebagai astronom puluhan tahun, dari ketiga anaknya, tidak ada yang mengikuti jejaknya di bidang astronomi. Anak pertamanya kini menjadi dosen desain produk di ITB, sementara anak keduanya, Hana, meniti karir sebagai figur publik dan artis. Saat ditanya apakah beliau mau diajak bermain film bersama putrinya tersebut, beliau menolak santai. "Artis itu orangnya pintar pura-pura. Biasa acting. Sementara saya kan orang yang apa adanya," candanya.
Di balik tawa dan obrolan santainya, terselip sebuah memori kehilangan yang masih membekas. Belum genap setahun berlalu, beliau ditinggalkan oleh sang istri tercinta. "Rasa kehilangan lebih mahal dari segalanya," ungkapnya pelan. Meski kepergian sang istri membawa duka yang mendalam, beliau menyadari bahwa kehidupan harus terus berlanjut. "Saya selalu merasa bahwa itu gak bisa disamakan dengan move on. Move on itu tetap jalan. Anak-anak saya tetap jalan, tapi saya tidak bisa dibilang move on" tambahnya, berusaha menjalani hari-hari ke depan sambil tetap menyimpan kenangan dan penghargaan atas kebersamaan yang pernah ada.
Dengan tubuh yang masih bugar, beliau menjaga kesehatannya melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti berjalan pagi, mencuci mobil sendiri, dan rutin naik-turun tangga di rumah. Kesederhanaan hidup serta penerimaannya terhadap berbagai dinamika kehidupan, baik dalam keluarga maupun karier akademiknya, memperlihatkan sosok Dr. Hakim L. Malasan yang mengajar melalui ilmu, tindakan, dan teladan hidup yang jujur serta apa adanya. [VS]