
Menjalani karir sebagai seorang saintis selama puluhan tahun telah membentuk pandangan mendalam bagi Dr. Hakim L. Malasan tentang esensi sejati sebuah pengabdian. Mengambil teladan dari tokoh-tokoh besar dalam sejarah sains, mulai dari Edwin Hubble, J. Robert Oppenheimer, hingga kekagumannya pada ketangguhan Marie Curie, beliau meyakini bahwa penggerak utama seorang peneliti haruslah murni berakar pada rasa ingin tahu. “Ketika kita melakukan sains, jangan didasarkan pada pengen dapet reward apa. Masih merasa ingin tahu aja,” tuturnya menegaskan.
Karena landasan berpikir itulah, pandangannya terhadap sebuah eksistensi menjadi sangat membumi. Beliau percaya bahwa sebuah apresiasi yang sejati lahir dari penghargaan yang secara natural terbentuk dan diberikan oleh lingkungan. “We don’t have to seek for recognition. Recognition itu adalah sesuatu yang emang diberikan oleh society, oleh semuanya,” tegasnya. Kepuasan batinnya diukur dari seberapa dalam dedikasinya diingat dan membawa manfaat nyata bagi orang lain. Jika pengabdian tersebut pada akhirnya membuahkan pengakuan, ia menganggapnya sekadar bonus dari proses merawat rasa ingin tahu.
Lantas, apa yang akan dilakukan oleh sosok yang tak pernah lelah ini setelah secara resmi purnatugas dari rutinitas kampus ITB? Jawabannya sangat singkat: tetap bekerja. Menjelang masa pensiunnya, sebuah babak baru sudah menanti. Beliau mengungkapkan bahwa dirinya telah dilamar oleh pihak Kerajaan Arab Saudi untuk terlibat dalam sebuah proyek astronomi bertajuk International Moon Station Program. Proyek internasional ini bertujuan untuk memasang jaringan teleskop robotik di berbagai belahan dunia, termasuk di Cile, Meksiko, Hawaii, Selandia Baru, Maroko, Indonesia, dan di Arab Saudi itu sendiri. Dalam proyek yang pengelolaannya akan berada di bawah naungan Royal Commission of Mecca and Holy Cities yang berpusat di Zamzam Tower tersebut, Dr. Hakim secara khusus diminta untuk menjadi penasihat atau konsultan astronomi. Jika rencana tersebut berjalan lancar, pada tahap awal beliau akan bersiap menghabiskan waktu sekitar enam bulan di Arab Saudi untuk mengawal perakitan instrumen teleskop hingga Maret 2027 mendatang. “Kalau memang saya ditarik jadi advisor, Insya Allah saya punya kantor di sana. Saya ngantor di Makkah,” ceritanya mengenai rencana masa depan yang sudah menanti di depan mata.
Bagi Dr. Hakim L. Malasan, akhir dari masa pengabdian administratif di kampus bukanlah garis finis dari perjalanannya di dunia sains. “Semoga selama saya masih hidup, saya masih bisa bekerja dan berkarya” tutupnya. Perjalanan baru ini menjadi bukti akan prinsip yang selalu beliau pegang, ketika seseorang mendedikasikan hidupnya dengan ketulusan dan integritas, maka jalan, pengakuan, dan kesempatan yang lebih besar akan datang menjemput dengan sendirinya. [VS]