Kelompok Keilmuan (KK) Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) berkolaborasi dengan Skyworld TMII menyelenggarakan kegiatan bertajuk Membaca Langit untuk Menentukan Arah Kiblat pada Rabu (15/7). Kegiatan ini diikuti oleh para guru dan siswa SMA sebagai upaya memperkenalkan astronomi melalui penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam penentuan arah kiblat.
Acara dibuka oleh Prof. Dr. Dhani Herdiwijaya, yang menekankan pentingnya membangun literasi sains di tengah masyarakat. Menurutnya, astronomi tidak hanya menjadi ranah para akademisi, tetapi juga perlu dipahami oleh masyarakat luas agar manfaatnya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Para ilmuwan astronomi saja tidak cukup, kita perlu masyarakat untuk mengetahuinya dan bersama-sama menanamkan bahwa alat ibadah itu bukan hanya panutan, tapi ada ilmu yang kita dapatkan,” ujar Prof. Dhani Herdiwijaya.
Melalui kegiatan ini, peserta diajak melihat bahwa astronomi memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar mempelajari benda-benda langit. Berbagai konsep astronomi telah lama dimanfaatkan manusia dalam menentukan waktu, menyusun kalender, melakukan navigasi, hingga menentukan arah kiblat. Dengan demikian, astronomi hadir sebagai ilmu yang tidak hanya membantu memahami alam semesta, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi berbagai aspek kehidupan.

Setelah sesi pemaparan materi, peserta mengikuti praktik menggunakan gnomon, sebuah alat sederhana berupa tongkat tegak yang dimanfaatkan untuk mengamati bayangan Matahari. Melalui pengamatan terhadap arah dan perubahan bayangan sepanjang waktu, peserta mempelajari bagaimana posisi Matahari dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan arah secara ilmiah.
Praktik tersebut dipandu oleh instruktur dari KK Astronomi ITB dan disambut dengan antusias oleh para peserta. Guru maupun siswa aktif mengajukan pertanyaan serta mencoba langsung metode pengamatan yang diperkenalkan. Pendekatan pembelajaran berbasis praktik ini memberikan pengalaman yang lebih mudah dipahami karena peserta dapat melihat secara langsung keterkaitan antara konsep astronomi dan penerapannya.

Puncak kegiatan berlangsung pada pukul 16.27 WIB, ketika peserta melakukan observasi penentuan arah kiblat secara langsung bersama Dr. Chatief Kunjaya. Dengan memanfaatkan arah bayangan Matahari pada waktu tersebut, peserta menyaksikan bagaimana prinsip-prinsip astronomi dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat secara akurat. Momen observasi ini menjadi pengalaman yang memperlihatkan bahwa fenomena langit dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengukuran yang bersifat ilmiah sekaligus relevan dengan kebutuhan masyarakat. [JA]