Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) kunjungi Observatorium Bosscha sebagai bagian dari pembelajaran dalam mata kuliah Astronomi Dan Lingkungan (AS3106) dan Astrowisata (AS3107) pada Jumat, 18 September 2026. Kegiatan kunjungan ini adalah salah satu rangkaian Proyek Kolaborasi Pembelajaran Berbasis Kasus yang bertujuan untuk mempertajam pemahaman mahasiswa mengenai polusi cahaya dan melihat secara langsung kualitas langit malam di sekitar observatorium secara nyata.
Astrowisata (astrotourism) merupakan bidang yang keberadaannya dipicu oleh ketertarikan masyarakat akan fenomena dan peristiwa astronomi. Tempat-tempat yang berpotensi untuk dijadikan tujuan dikembangkannya astrowisata tentu tidak sembarangan. Kualitas langit yang minim polusi cahaya dapat memaksimalkan pengalaman dalam mengamati indahnya fenomena astronomi bagi wisatawan. Dengan demikian, diperlukannya sebuah penelitian lintas disiplin yang dapat menganalisis dan mengevaluasi sebuah destinasi wisata dalam menjadi sebuah tempat yang berpotensi untuk perkembangan astrowisata. Proyek Kolaborasi Pembelajaran Berbasis Kasus menghadirkan pembelajaran berbasis mahasiswa (Learner-Centered Learning) dalam mengintegrasikan sudut pandang dan kolaborasi lintas disiplin bagi mahasiswa dari segi aspek ilmiah polusi cahaya hingga evaluasi potensi pariwisata.
Pada rangkaian ekskursi ke Observatorium Bosscha, kegiatan diawali dengan sesi pengenalan berbagai instrumen pengamatan utama yang ada di Observatorium Bosscha. Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk mengenal lebih dekat instrumen ikonik seperti Teleskop Refraktor Ganda Zeiss, dilanjutkan dengan pengenalan Teleskop LKBF, Teleskop STEVIa, Teleskop Surya. Pengenalan teleskop ini bertujuan untuk memberikan kesadaran betapa pentingnya kualitas langit yang baik untuk melakukan pengamatan bagi astronom. Fasilitas generasi terbaru teleskop radio VGOS pun tak lupa diperkenalkan dalam sesi ini agar peserta mengetahui bahwa dalam perkembangannya astronomi tidak lagi hanya melakukan pengamatan pada panjang gelombang optik saja. Astronomi terus berkembang hingga pengembangan teleskop radio yang melibatkan kerja sama internasional.



Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi komprehensif mengenai isu polusi cahaya yang kian mengkontaminasi kawasan di sekitar Observatorium Bosscha. Mahasiswa dapat mengamati secara langsung kualitas langit di sekitar observatorium Bosscha secara langsung pada sesi ini. Sebagai penutup agenda, para peserta berkesempatan melakukan pengamatan Bulan secara langsung menggunakan teleskop portabel.

Kunjungan ke Bosscha bukanlah akhir dari rangkaian riset lapangan, melainkan jembatan antara eksplorasi awal Globe at Night yang telah dilakukan mahasiswa di daerah masing-masing. Bagi peserta mata kuliah Astrowisata, agenda berlanjut dengan ekskursi ke kawasan wisata alam Bandung Selatan pada 3 Oktober 2026 untuk mengevaluasi kesiapan infrastruktur serta daya tarik astrowisata secara komprehensif.
Proyek kolaborasi lintas mata kuliah ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menuangkan pemahaman teori ke dalam produk analisis riil. Luaran yang ditargetkan mencakup dokumen laporan studi kelayakan gabungan, poster visual ilmiah untuk pameran kampus, serta video dokumentasi singkat yang merekam seluruh tahapan riset lapangan mereka.
Pada masa yang akan datang, proyek kolaborasi ini diharapkan dapat dipertahankan agar bisa diselenggarakan setiap tahunnya. Untuk langkah awal, kolaborasi terfokus pada mata kuliah Astronomi Lingkungan dan Astronomi Wisata terlebih dahulu.

“Untuk saat ini kami memastikan kolaborasi antara astronomi lingkungan dan astronomi wisata ini bisa dipertahankan setiap tahun. Tentu, kami mengevaluasi tahun ini hasilnya seperti apa, kesulitan yang dihadapi mahasiswa seperti apa, lalu akan kami perbaiki pada tahun yang mendatang”, demikian menurut Dr. Kiki Vierdayanti, S.Si., M.Sc. , Kaprodi Astronomi ITB. [KTI]