Tim Institut Teknologi Bandung (ITB) yang terdiri dari kolaborasi Program Studi Astronomi, FSRD, dan PSTIA menyelenggarakan rangkaian kegiatan Pengembangan Astrowisata di Kelurahan Mebba, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Rangkaian kegiatan ini diawali dengan eksplorasi potensi alam, salah satunya melalui kunjungan ke kawasan warisan geologi Kelabba Madja. Observasi lapangan dan pengolahan data menunjukkan bahwa Pulau Sabu sangat layak diusung menjadi lokasi astrowisata karena memiliki rata-rata fraksi langit cerah yang tinggi, yakni mencapai 71,45%. Kawasan ini juga divalidasi minim polusi cahaya buatan, dengan hasil pengukuran kecerlangan langit yang mencapai klasifikasi Skala Bortle 1. Secara sederhana, skala ini menunjukkan tingkat langit malam yang paling gelap. Kondisi yang terbebas dari polusi cahaya artifisial ini membuat pengamatan bintang dan galaksi Bima Sakti dapat terlihat jelas hanya dengan mata telanjang.

Selain melakukan observasi astronomi, tim juga mengadakan sesi pelatihan dan diskusi bersama masyarakat lokal yang bertempat di balai kayu tradisional. Pertemuan ini ditujukan untuk membekali warga terkait pengembangan konsep ekowisata bahari dan astrowisata di daerah mereka. Setelah sesi pemaparan materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan bantuan perlengkapan keselamatan berupa jaket pelampung dan set alat pancing secara simbolis kepada masyarakat. Penyerahan fasilitas ini dimaksudkan untuk mendukung kesiapan operasional wisata laut. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong kemandirian warga lokal dalam mengelola objek wisatanya.

Sebagai puncak acara, tim ITB bersama warga setempat mempraktikkan langsung program “Starfishing” di perairan Sabu. Kegiatan ini menawarkan pengalaman memancing tradisional dari atas perahu sembari memandu peserta untuk mengamati keindahan rasi bintang di langit malam. Di balik antusiasme yang tinggi, kegiatan ini juga menyisakan cerita dan tantangan tersendiri di lapangan. Salah satu peserta mengungkapkan bahwa kegiatan memancing di malam hari ternyata tidak semudah yang dibayangkan, terutama bagi mereka yang belum memiliki teknik dasar memancing yang memadai. Selain itu, dinamika di atas perahu kecil juga cukup menantang karena para pendamping harus merangkap peran menjadi pemandu operasional wisata sekaligus pemateri navigasi bintang di tengah laut. Berdasarkan pengalaman tersebut, tim mengevaluasi bahwa ke depannya pembagian tugas perlu dirancang lebih spesifik, di mana minimal harus ada dua orang penanggung jawab terpisah untuk menangani operasional kapal dan navigasi astronomi agar kegiatan berjalan lebih optimal.

Melengkapi rangkaian eksplorasi dan pelatihan tersebut, tim turut berbaur dengan kearifan lokal melalui kunjungan budaya ke Kampung Adat Namata. Dalam kunjungan tersebut, para anggota tim berkesempatan mengenakan pakaian adat khas Sabu Raijua yang dilengkapi dengan kain tenun ikat dan hiasan kepala tradisional. Melalui kombinasi antara keindahan langit malam, potensi wisata bahari, serta kekayaan budaya adat ini, program astrowisata diharapkan dapat terus berlanjut. Inisiatif ini juga diharapkan mampu menarik daya minat wisatawan untuk berkunjung, yang pada akhirnya akan mendongkrak kesejahteraan dan potensi ekonomi kreatif bagi masyarakat Sabu Raijua di masa depan. Menurut Dr. Chatief Kunjaya, selaku dosen yang ikut serta dalam kegiatan ini, rencana pengembangan program ke depan masih terbuka lebar bergantung pada perolehan pendanaan dan proposal, dengan peluang kolaborasi bersama jejaring universitas mitra serta International Astronomical Union (IAU). [VS]